cara memahami orang-orang syirik
DALAM kehidupan sehari-hari, kita pasti menemui orang-orang yang dengan mudahnya selalu menyalahkan kita. Selalu mencela barang yang kita miliki. Selalu memberikan komenytar-komentar yang negatif. Padahal dia bukanlah seorang pengritik dalam arti yang sesungguhnya. Mereka pada dasarnya adalah orang-orang sirik.
Apakah sirik itu?
Sirik dan syirik itu berbeda. Sirik dalam arti umum juga tidak sama pengertian sirik yang berlaku di Makassar. Sirik di dalam artikel ini adalah di dalam konteks psikologi. Yaitu, perilaku yang menunjukkan rasa tidak suka terhadap apa saja yang ada pada orang lain dan itu sudah merupakan kebiasaan permanen.
Contoh 1:
Si A punya hobi memodifikasi motor. Dia modifikasi motor dari dua roda menjadi tiga roda. Si A bukan orang cacat. Ketika dia berhenti di depan Alfamart, tiba-tiba di sampingnya ada penyandang cacat (katakan namanya Si B) naik motor tiga roda juga. Si A belum mengenalnya. Setelah ngobrol sebentar, Si B itu langsung mencela modifikasi motor Si A. Yang katanya kurang kuatlah, yang kurang inilah, yang kurang itulah. Padahal modif motor Si A rapi, sedangkan motor modif Si B kelihatan jorok dan ruwet sekali.
Contoh 2:
Si C adalah tukang ojek yang kreatif.Misalnya, dia punya klakson yang bisa tiga macam bunyinya. Motornya juga dihiasi pernik-pernik lampu. Juga untuk membuka jok dilengkapi hidraulik mini. Begitu melihat Si A (bukan tukang ojek), memodifikasi motornya dan dilengkapi kanopi/atap motor, maka perilaku Si C berubah. Kalau bertemu dengan Si A pura-pura tidak melihat. Bahkan tidak mau menegur seperti biasanya.
Contoh 3:
Si A adalah seorang Facebooker dan Blogger. Rajin membuat status dan artikel. namun, ada beberapa Facebooker dan pembaca blog-nya yang selalu memberikan komentar yang negatif (sinis, suka menyalahkan, menggurui, merendahkan dan komentar-komentar yang tidak enak lainnya).
Contoh 4:
Si A adalah pelopor reuni SMA-nya sejak 1971. Dengan susah payah dan bertahun-tahun mengumpulkan para alumni yang bertebaran di Jabodetabek. Keluar banyak tenaga, waktu, pikiran dan uang. Tiba-tiba, sekitar tahun 1990-an, ada dua alumni bernama Si C dan Si D menyabot kegiatan Si A dan tidak memperlakukan Si A sebagai pelopor reuni. Bahkan, perilakunya kurang menghargai Si A.
Contoh 5:
Si A adalah mahasiswa yang rajin kuliah dan berasal dari keluarga mampu. Dia sering membeli buku-buku, baik dalam bahasa Indonesia maupun dalam bahasa Inggeris. namun temannya, Si E, selalu mengolok-olok Si A. katanya, Si A sok ilmiahlah, tidak mengerti bahasa Inggeris-lah, sok ilmuwanlah dan olok-olok lainnya.
Contoh 6:
Seorang politisi yang dulu pernah jadi capres tapi keok, merasa tidak suka (impulsif) jika Jokowi nyapres dan akan terpilih sebagai presiden. Apalagi dia gagal menjadikan Jokowi sebagai cawapres dari capres andalannya. Maka, untuk meringankan beban psikologisnya (bisa juga: psikologis-politis), dia selalu mencela Jokowi dengan segala cara. Selalu menciptakan kesalahan-kesalahan buat Jokowi.
Ciri-ciri orang sirik
Dari contoh-contoh di atas, bisa ditarik benang merah tentang ciri-ciri orang sirik.
-Tidak suka melihat orang lain melebihi dirinya
-Cara berpikirnya apriori
-Tidak mempunyai kemampuan menghargai orang lain
-Merasa dirinya lebih hebat daripada orang lain
-Tidak memiliki semangat untuk bersaing
-Haus pujian orang lain
-Ingin dianggap mengerti semua hal
-Tidak senang melihat prestasi orang lain
-Negative thinking
-Tidak menyukai perbedaan pendapat
-Tidak mau dikritik dan bahkan suka menyalahkan orang lain
-Merasa dirinya sudah sempurna
-Selalu menciptakan kesalahan-kesalahan terhadap orang atau orang-orang tertentu
-Sedang mengalami beban psikologis
Semua itu bisa disingkat dengan kalimat “Sirik tanda tidak mampu”.
Semoga bermanfaat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar